Jaman Pra-Sejarah
Berdasarkan penyelidikan para Arkeolog dan Ethnograf di Manggarai (termasuk Manggarai Barat) telah ditemukan beberapa jejak kehidupan purba, antara lain dapat dilihat dari pola perkampungan masyarakat purba dan penemuan fosil purba di beberapa tempat di Manggarai dan Manggarai Barat.
Berdasarkan penyelidikan para Arkeolog dan Ethnograf di Manggarai (termasuk Manggarai Barat) telah ditemukan beberapa jejak kehidupan purba, antara lain dapat dilihat dari pola perkampungan masyarakat purba dan penemuan fosil purba di beberapa tempat di Manggarai dan Manggarai Barat.
Pola
perkampungan masyarakat purba Manggarai. Dalam perkampungan purba
selalu ditemukan unsur zaman batu. Fenomena tehnologi purba, bagaimana
orang zaman dahulu kala membangun mosaik hidup dan kehidupannya dengan
unsur batu sebagai fondasi pola perkampungan, serta khusus untuk Compang
yang dihayati sebagai mesbah persembahan. Dari konstruksi
perkampungannya sendiri bisa dilihat, selain ‚’’Compang’’‚ ’’Natas’’,
’’Like’’ dan ’’Porong Telo’’ misalnya, dibangun dari susunan batu-batu
sangat rapih. Bagian yang dibangun agak bertahap adalah bangunan
Compang. Compang merupakan tempat sesajian kepada arwah yang pada
umumnya terletak di tengah halaman kampung. Compang berbentuk bundar
menyerupai meja persembahan, terbuat dari tumpukan batu. Pada umumnya di
tengah Compang tumbuh dadap (kalo), namun dibeberapa tempat ditemukan
pohon beringin (langke). Bangunan Compang pada saat ini dapat ditemukan
di Compang Ruteng Pu’u, Compang Wae Rebo, Compang Cibal, Compang Mano
dan Compang Pacar Pu’u dan masih ada dibeberapa tempat yang lain.
Sebagian besar Compang terletak di wilayah Kabupaten Manggarai, hanya
Compang Pacar Pu’u yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat.
Binatang
peninggalan zaman purba. Salah satu bukti prasejarah yang masih ada
sampai sekarang di Manggarai Barat adalah satwa Komodo (Varanus
komodoensis). Komodo merupakan kadal tertua yang masih hidup. Nenek
moyang langsung dari komodo (Famili Varanidae) hidup pada 50 juta tahun
yang lalu. Komodo barangkali sudah merupakan keturunan dari kadal yang
lebih besar (Megalania presca) dari Jawa atau Australia yang hidup
30.000 tahun yang lalu. Komodo mungkin berasal dari Asia atau Australia.
Sebuah teori mengatakan bahwa komodo berpindah dari Pulau Jawa ke Pulau
Komodo. Teori lain mengatakan bahwa komodo berenang dari Australia ke
Pulau Timor, selanjutnya berpindah dari pulau ke pulau hingga mencapai
Flores. Kira-kira 18.000 tahun lalu tingkat permukaan air diperkirakan
lebih rendah 85 meter dibandingkan sekarang. Karena bagian landai yang
lebih dangkal dari pulau sering terpapar dan kering, maka komodo dapat
dengan mudah berpindah dari Flores ke Rinca dan Komodo. Pada saat ini,
Komodo dapat ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan
sebagian kecil di utara dan barat Pulau Flores.
Sejarah Pulau Flores
Nama
Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Copa de Flores” yang berarti
“ Tanjung Bunga”. Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut
wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai
sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer.
Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad. Lewat sebuah studi yang
cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa
yang berarti Pulau Ular.
Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:
Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:
- Etnis Manggarai – Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);
- Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);
- Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
- Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);
- Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Masyarakat
Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman
reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran
wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi
pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat
Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan diantara keduanya.
Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.
Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.
Manggarai (Termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX
Seperti daerah lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari
orang-orang dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.
Cina
Pengaruh
Cina cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai,
pengaruh Cina dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti
guci, cermin, perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai
sejak awal masehi. Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat
sejumlah benda antic dari Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960
sampai tahun 1644.
Jawa
Pengaruh
Jawa terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225
telah ada utusan dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos
mengenai Madjapahit. Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di
beberapa tempat, seperti Benteng Jawa.
Bugis, Makasar, Bima.
Pengaruh Bugis, Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
Kesultanan Goa.
Sekitar
tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai
Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka
menyetorkan upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di
Flores sekitar tahun 1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada
budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam
peristilahan harian, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah
tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan
di Sulawesi Selatan.
Kesultanan Bima.
Pada
tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah
Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara
itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak,
meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang
Rongot, yang dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo,
kemudian melahirkan Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli
(Wudi). Perang Weol Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol
II dan Perang Bea Loli, Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu
membantu Todo. Kenyataan ini mengkokohkan posisi Bima di Manggarai,
hingga masuknya pengaruh ekspedisi Belanda pertama tahun 1850 dan
ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan Meerburg. Ekspedisi yang
terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan H.Christofel. Kehadiran
Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit antara Belanda dan
rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang bergelar Motang
Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan Motang Rua,
Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas
ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.
Selain Kesultanan Goa dan Bima,
Kerajaan
lain yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan
Lambaleda, Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada
saat ini bukti serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa
adalah Kerajaan Todo, walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
Referensi tentang penelusuran tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit
untuk didapatkan.
Belanda
Pengaruh
Belanda ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu
tahun 1850,1890, dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama
pada didirikannya sekolah-sekolah dan agama Katolik.
Penyebaran agama Islam
Pada
abad ke-16, Belanda berekspansi ke Flores Barat untuk menguasai
Manggarai. Penguasaan Manggarai tidak dilakukan secara langsung oleh
Belanda, tetapi melalui Kerajaan Goa yang berkedudukan di Makasar. Jadi,
Manggarai di bawah kekuasaan Kerajaan Goa. Saat itu orang orang
Sulawesi memang telah memeluk agama Islam. Kehadiran Kerajaan Goa di
Manggarai tidak menyebarkan agama. Kerajaan Goa hanya menjalankan
pemerintahan yang digariskan Belanda. Meski demikian, secara kultural,
simbol-simbol islamik dan doa-doa tradisional, khususnya, banyak
dipengaruhi tradisi islamik Goa dan Bima. Ada beberapa istilah yang sama
antara orang Sulawesi, Bima, dan Manggarai, atau kemungkinan istilah
itu berasal dari bahasa Makasar-Bugis, seperti kraeng sebagai gelar
bangsawan di wilayah Kerajaan Goa. Istilah itu digunakan pula untuk
gelar bangsawan di Manggarai sampai sekarang. Mori, sengaji yang berarti
Tuhan dalam bahasa Goa, juga mengandung arti yang sama di Manggarai.
Kata kreba (kabar), rodong (sejenis kerudung yang hanya dipakai wanita),
sa dako (sedikit atau segenggam), sebuah istilah yang biasa merujuk
pada perilaku adil terhadap sesama. Selain itu, dikenal pula
simbol-simbol dalam cara berpakaian. Orang Manggarai, terutama kaum
pria, hanya merasa sah atau percaya diri, jika ia mengenakan peci hitam.
Peci dan sarung sebagai pakaian resmi yang biasa digunakan dalam
penampilanpesta atau acara ritual, termasuk mengikuti ritual misa di
gereja. Cara berpakaian dan jenis pakaian seperti menjadi lambang
kemanggaraian. Dari ciri kultural tersebut, orang Manggarai lebih dekat
dengan Sape dan Bima di Nusa Tenggara Barat ketimbang suku bangsa Ngada,
atau Ende, atau suku bangsa lain di Flores. Ditemukan pula gejala
parabahasa untuk berdoa secara islamik.
Penyebaran agama Katholik Roma
Kristianitas,
khususnya Katholik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad
ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup
Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi
permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah
benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat Kota Larantuka. Tahun 1577
saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000:
33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar besaran penduduk
Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di
Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal
kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur
kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores (termasuk ke daerah
Manggarai dan Manggarai Barat) dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari
penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau
Flores memeluk agama Katholik. Penyebaran ini banyak dilakukan melalui
peningkatan pendidikan masyarakat.
Gereja di Biara Ursulin, Stella Maris,Labuan Bajo





0 komentar:
Posting Komentar